Senin, 12 Maret 2012

Tugas Biogeografi - Persebaran Beruang Madu


TUGAS BIOGEOGRAFI
PERSEBARAN BERUANG MADU
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Biogeografi
Dosen Pengampu: Gunardo R.B., M.Si.

logo-uny-hitam-putih1.gif

Oleh:
Rukmi Arumbi                        10405241028


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2011


PERSEBARAN BERUANG MADU

Beruang madu merupakan spesies beruang terkecil dari delapan jenis beruang yang ada di dunia. Beruang madu yang suka menyukai sarang lebah (anak lebah dan madunya) sebagai makanan favoritnya ini merupakan binatang khas (fauna identitas) provinsi Bengkulu. Binatang pemakan madu ini juga menjadi maskot kota Balikpapan.

             A.    Definisi Beruang Madu
Beruang madu dalam bahasa latin disebut Helarctos malayanus dan dalam  bahasa Inggris disebut sebagai Malayan Sun Bear atau Sun Bear. Spesies beruang terkecil ini merupakan satwa yang dilindungi dari kepunahan secara International. Oleh IUCN Red List, binatang pemakan lebah dan madu yang pandai memanjat ini dalam status konservasi di kategorikan sebagai “Rentan” (Vulnerable; VU).
Klasifikasi ilmiah dari beruang madu adalah sebagai berikut:
Kingdom
:
Animalia
Phylum
:
Chordata
Class
:
Mammalia
Order
:
Carnivora
Familiy
:
Ursidae
Genus
:
Helarctos
Species
:
Herarctos malayanus

Secara etimologis Helarctos berasal dari bahasa Yunani yaitu “hela” yang berarti matahari dan “arcto” yang berarti beruang sehingga Helarctos berarti sun bear (Beruang matahari) penyebutan sun bear berdasarkan adanya corak putih pada bagian dada yang terlihat seperti matahari (Fitzgerald dan Krausman, 2002). Beruang madu juga disebut Ursus malayanus (Meijaard, 2004). Terdapat beberapa nama populer untuk beruang madu yaitu Malayan sunbear (Fitzgerald dan Krausman, 2002), Malayan bear (Fetherstonhaugh,1940, 1948), Malay bear (Davis 1958) dan Sun bear (Corbet dan Hill, 1992).
Jika beruang jenis lain, seperti yang terdapat di Benua Amerika, sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan bukan hutan, seperti perkotaan atau perkampungan. Maka justru beruang madu sebaliknya. Kawanan H. malayanus sangat pemalu. Bahkan dengan penciumannya yang tajam, beruang madu juga berusaha untuk menghindar bertemu manusia.

Adapun ciri-ciri fisik beruang madu adalah:
a.         Beruang madu mempunyai panjang tubuh sekitar 1,4 meter dengan tinggi punggungnya sekitar 70 cm. Pernah juga dijumpai hingga mencapai 110-140 cm (berdiri dari kaki hingga kepala). Beruang madu dewasa mempunyai berat tubuh antara 50-65 kg, sedangkan di dalam kurungan beratnya bisa lebih ringan. Dengan ukuran tubuh ini, menjadikan Beruang madu sebagai beruang terkecil diantara jenis-jenis beruang lainnya yang terdapat di dunia Bandingkan dengan bobot tubuh jenis beruang terbesar di dunia yaitu Beruang Kutub yang bisa mencapai 800 kg.
b.         Bulu beruang madu pendek, mengilau, dan pada umumnya berwarna hitam ( namun terdapat pula     yang berwarna coklat kemerahan maupun abu-abu).
c.         Hampir setiap beruang madu mempunyai tanda unik di dadanya  yang berbentuk “V” (warnanya biasanya kuning, oranye atau putih dan kadang- kadang bertitik-titik)
d.        Hidung dari beruang madu relatif lebar tetapi tidak terlalu moncong dan berwarna lebih cerah dari warna dadanya.
e.         Beruang madu mempunyai kuku yang panjang-panjang dan terdiri dari masing-masing lima pada sepasang kaki depan dan belakang. Tangannya relatif besar dibandingkan dengan ukuran badan. Lengan depannya yang melengkung ke dalam, telapak yang tidak berbulu, dan kuku yang panjang,membuatnya dapat teradaptasi memanjat pohon.
f.          Mata berwarna cokelat atau biru.
g.         Kepalanya relatif besar sehingga dapat menyerupai anjing, kupingnya kecil- bundar dan dahinya yang penuh daging terkadang tampak berkerut.
h.         Mempunyai lidah yang panjang ( paling panjang dari semua jenis beruang yang ada).
i.           Beruang Madu memiliki penglihatan dan pendengaran yang kurang peka. Namun kekurangan itu ditutupi oleh penciumannya yang sangat tajam hingga mencapai radius 100 m. Dengan penciuman yang sangat tajam tersebut, beruang madu dapat mencium bekas injakan satwa lain ataupun manusia.
j.           Tergantung pada spesiesnya, beruang dapat memiliki 32 hingga 42 gigi. Gigi beruang tidak dikhususkan untuk membunuh mangsa mereka.Gigi taring beruang relatif kecil dan umumnya digunakan untuk pertahanan diri atau alat. Gigi geraham beruang lebar, datar dan digunakan untuk memotong dan menggiling tumbuhan menjadi potongan lebih kecil yang dapat dicerna.
Beruang madu aktif di malam hari atau disebut juga dengan makhluk nokturnal, mereka menghabiskan waktu di tanah dan memanjat pepohonan untuk mencari makanan. Kecuali betina dengan anaknya, beruang madu umumnya bersifat soliter. Dalam satu hari seekor beruang madu berjalan rata-rata 8 km untuk mencari makanannya. Sifatnya pemalu, hidup penyendiri, aktif di siang hari dengan kebutuhan wilayah jelajah yang luas.
Pada semua spesies beruang, jantan lebih besar daripada betina. Perbedaan antar jenis kelamin ini, semakin besar pada spesies yang lebih besar. Beruang kutub jantan berbobot dua kali lebih besar daripada betinanya, sedangkan jantan spesies beruang yang lebih kecil berbobot hampir sama dengan betinanya.
Dalam kondisi liar, usia hidup spesies beruang terkecil ini dapat mencapai sekitar 25 tahun hingga 40 tahun. Beruang yang hidup di hutan lebih cepat mati daripada mereka yang hidup di kebun binatang. Binatang pemakan madu ini mampu bereproduksi sepanjang tahun. Beruang madu mengandung selama 96 hari, dan menyusu selama 18 bulan. Jumlah bayi yang dapat dilahirkan rata-rata mencapai tiga ekor. Beruang madu mencapai kematangan seksual setelah berumur 3-4 tahun. Beruang madu tidak mempunyai musim kawin tertentu, mungkin karena musim buah dan ketersediaan makanan di alam sangat bervariasi. Beruang madu melahirkan di dalam batang kayu yang berlubang atau gua kecil dimana anak beruang dilindungi. Beruang madu betina hanya memiliki 4 puting susu dibandingkan jenis beruang lain yang biasanya melahirkan beberapa ekor anak dan mempunyai 6 puting susu.
Beruang Madu memiliki penampilan yang nampak kaku, namun ia dapat bergerak dengan kecepatan hingga 48 kilometer per jam dan memiliki tenaga yang sangat kuat. Beruang juga dapat bergerak dengan fleksibel dan lincah. Beruang madu dapat berjalan dengan sangat diam, sehingga gerakannya tidak kedengaran.
Beruang madu melahirkan di dalam batang kayu yang bolong atau gua kecil dimana anak beruang dilindungi, sehingga cukup besar untuk mengikuti induknya dalam aktivitas sehari-hari. Beruang madu betina hanya memiliki 4 puting susu dibandingkan jenis beruang lain yang biasanya melahirkan beberapa ekor anak dan mempunyai 6 puting susu.

B.     Lokasi
Beruang madu dapat ditemukan di daerah hujan tropis Asia Tenggara. Beruang madu di masa lalu diketahui tersebar hampir di seluruh benua Asia, namun sekarang menjadi semakin jarang akibat kehilangan dan fragmentasi habitat. Hutan hujan tropis tumbuh di dekat garis equator, dimana iklim sepanjang tahun hangat dan basah. Sebagian besar hutan ini tumbuh di lembah sungai Amazon, lembah sungai Kongo, dan di wilayah Asia Tenggara.
Hutan  hujan tropis paling banyak memiliki keragaman pohon, sekitar 100 species bisa tumbuh pada wilayah seluas 2,6 km2. Sebagian besar pohon berdaun lebar dan selalu hijau sepanjang tahun, terdapat juga pohon palm dan paku-pakuan. Kebanyakan hutan pohonnya membentuk tiga lapisan selubung (canopy). Canopy paling atas dapat mencapai ketinggian 46 meter, tumbuhan yang melebihi canopy di sebut emergent. Tumbuhan understory membentuk lapisan selubung ke dua.
Lapisan semak belukar dan tumbuhan herbal sangat tipis karena sinar matahari terhalang oleh lapisan canopy. Seringkali beberapa tanaman merambat dan menumpang lainnya menempel di cabang-cabang pohon lapisan canopy, sehingga dapat menyerap sinar matahari secara penuh.
Sebagian besar binatang hutan hujan tropis juga hidup pada lapisan canopy, dimana mereka dapat menemukan makanan yang sangat berlimpah. Kondisi hutan yang demikian sangat mendukung Beruang Madu untuk dapat hidup dengan baik.

C.     Persebaran dan Habitat
Penyebaran beruang madu terlihat di sebagian Asia Selatan dan Asia Tenggara, yaitu: India bagian timur, bagian utara Birma, Vietnam, Laos, Kamboja, Myanmar, Thailand, Malaysia, Brunei Darrusalam, Kalimantan dan Sumatera. Ada catatan historis yang menunjukkan bahwa beruang madu dulu terdapat di Tibet, Bangladesh, dan beberapa wilayah di Hindia dan Cina dan di Pulau Jawa. Namun demikian, persebaran beruang madu telah sangat mengecil sejak jaman dulu dikarenakan kehilangan habitat dan perburuan. Beruang madu telah dianggap punah di Tibet, kemungkinan punah di Hindia bagian timur (namun perlu dipastikan) dan Bangladesh. Kemungkinan besar bahwa di Cina bagian selatan sisa populasi tinggal sedikit ataupun sudah punah. 
Beruang Madu terdapat di hutan rimba. Habitatnya adalah hutan-hutan dataran rendah (lowland), hutan perbukitan dan perbukitan atas sampai ketinggian 1500 mdpl, tetapi kadang-kadang berada di tempat yang lebih tinggi hingga mencapai ketinggian 2300 mdpl.
H. malayanus hidup di permukaan tanah dan pada pepohonan yang tinggi. Sarangnya terbuat dari dahan-dahan kecil yang terletak di permukaan tanah, sering digunakan untuk tidur, berjemur dan beristirahat pada siang hari. Biasanya letaknya lebih dekat ke batang pohon dan kurang tersusun rapi. Di tempat-tempat yang lebih rendah, beruang ini kadang-kadang membuat sarang yang agak mirip dengan sarang orangutan, tetapi lebih kecil dan kurang rapi.

D.    Interaksi
Beruang madu merupakan “omnivore”, yang berarti memakan banyak jenis makanan. Makanan utamanya adalah serangga (terutama rayap, semut, larva kumbang dan kecoak hutan). Yang kedua adalah banyak jenis buah-buahan, apabila tersedia. Kalau beruang bisa dapat mereka sangat suka dengan madu, terutama dari jenis kelulut (stingless bees). Terkadang memakan bunga tertentu. Rumput dan daun hampir tidak pernah dimakan. Di pinggiran hutan beruang terkadang memakan umbut jenis-jenis palem, dan kemungkinan terkadang memakan jenis mamalia kecil dan burung. Kukunya yang panjang, tajam dan melengkung memudahkan beruang madu untuk menggali tanah, membongkar kayu jabuk, dan rahangnya yang sangat kuat membuat beruang sanggup membongkar kulit kayu guna mencari serangga dan madu. Dengan lidah panjangnya mereka mengambil makanan yang lobang-lobang yang dalam. Dalam satu hari seekor beruang madu berjalan rata-rata 8 km untuk mencari makanannya.  
Cara Beruang Madu ini mengambil madu cukup unik dan berani. Setelah menemukan sebuah sarang lebah dengan penciumannya yang tajam, ia akan menghantamnya beberapa kali dengan kuku cakar pada kaki depannya hingga sarang lebah tersebut rusak dan robek. Kalau sudah begini lebah-lebah dalam sarang akan segera menyerang beruang. Namun bulu tebal yang dimilikinya mampu melindungi tubuhnya dari sengatan lebah-lebah itu hingga akhirnya pergi menjauh meninggalkan sarangnya. Kemudian beruang bebas memakan larva lebah yang tertinggal dan menjilati madunya dengan lahap hingga habis. Jadi, mereka dapat dengan mudah mendapatkan madu tanpa masalah.
Hutan hujan tropis merupakan habitat utama beruang madu. Kayu hutan tersebut dinilai tinggi oleh manusia, dan sedang dikonversikan dengan cepat ke hutan sekunder, perkebunan, pertanian, peternakan dan pemukiman. Malaysia dan Indonesia merupakan pengekspor kayu keras tropis terbesar di dunia dan kebanyakan ekspor tersebut berasal dari habitat beruang madu sehingga habitatnya berkurang. Walaupun dampak spesifik terhadap persebaran, kepadatan dan jumlah populasi dan kesediaan makanan belum diketahui dengan pasti namun sudah dapat dipastikan bahwa dampaknya negatif. Kegiatan manusia yang diuraikan di atas menggantikan hutan dataran rendah yang asli dengan hamparan lahan yang tidak dapat dimanfaatkan beruang madu. Habitat yang dibutuhkan beruang menghilang termasuk tumbuhan, serangga dan makanan lain yang dibutuhkan beruang. Oleh karena makanan aslinya sudah tidak ada, terkadang beruang madu memakan tanaman pertanian, terutama umbut kelapa, sehingga tanaman tersebut mati. Mereka biasanya berada di pohon pada ketinggian 2 - 7 meter dari tanah, dan suka mematahkan cabang-cabang pohon atau membuatnya melengkung untuk memudahkan dalam membuat sarang.
Tidak seperti beruang yang hidup di iklim dingin dengan empat musim, Beruang Madu tidak melakukan hibernasi, karena makanan tersedia sepanjang tahun. Bayi-bayi beruang madu lahir dalam keadaan buta, tidak bergigi dan tidak berbulu. Pertumbuhan gigi selesai pada umur kira-kira 18 bulan. Jadi selama itu pula induk beruang menyusui dan melindungi mereka. Bayi-bayi tersebut juga tidak akan pernah meninggalkan gua atau sarang, namun jika sesekali bayi-bayi itu harus pergi meninggalkan gua atau sarang, maka induknya akan selalu melindungi mereka. Jika tidak, bayi-bayi tersebut mungkin akan terbunuh oleh satwa buas atau beruang jantan. Anak beruang tetap bersama induknya sampai hampir mencapai dewasa. Pada masa-masa tersebut induk beruang banyak sekali kehilangan bobot tubuhnya, namun demikian ia tetap dapat bertahan hidup.
Di alam liar Beruang Madu tergolong sebagai satwa buas yang memiliki kebiasannya menyerang mendadak tanpa peringatan sebelumya. Sifat ini membuatnya sangat ditakuti oleh masyarakat setempat, bahkan lebih ditakuti dibandingkan dengan harimau. Sesungguhnya bahaya utama dari beruang madu karena ia lebih mudah terkejut ketika mengembara di tengah hutan. Dan beruang yang terkejut, meskipun kecil, bisa menjadi beruang yang berbahaya. Pada wilayah yang telah diganggu oleh manusia, mereka cenderung akan merusak lahan pertanian, menghancurkan pisang, pepaya atau tanaman kebun lainnya.

E.     Manfaat
Apabila beruang madu memakan buah, bijinya ditelan utuh-utuh, sehingga tidak rusak. Setelah buang air besar, biji yang ada di dalam kotoran tersebut mulai tumbuh sehingga beruang madu mempunyai peran yang sangat penting sebagai penyebar tumbuhan buah berbiji besar seperti cempedak, durian, lahung, kerantungan dan banyak jenis lain. Perilaku mencari makan yang lain seperti pembongkaran sarang rayap di tanah, kayu jabuk dan batang pohon hidup untuk mendapatkan madu, bermanfaat bagi jenis satwa yang lain pula. Banyak burung yang ikut memakan serangga apabila beruang sudah membongkar sarang atau kayu jabuk dan pembongkaran kayu menyediakan lobang di batang pohon yang sering dimanfaatkan satwa lain untuk berlindung ataupun berkembang-biak. Perilaku menggali dan membongkar juga bermanfaat untuk mempercepat proses penguraian dan daur ulang yang sangat penting untuk hutan hujan tropis.
Sebagian orang percaya, empedu beruang madu yang pahitnya luar biasa sangat berkhasiat untuk menambah vitalitas tubuh dan menambah daya tahan tubuh dari berbagai penyakit. Empedu beruang madu biasa dibuat untuk berbagai obat-obatan China. Secara tradisional, empedu beruang madu ditelan langsung dan kalau susah bisa dibantu pisang saat menelannya. Ketika belum ada minuman penambah energi, empedu beruang madu menjadi
konsumsi favorit para pekerja yang membutuhkan tenaga kuat, seperti
kuli angkut di pelabuhan atau pekerja di perusahaan kayu. Masyarakat juga meyakini empedu beruang madu sebagai obat untuk luka dalam akibat patah tulang, terkilir dan kecelakaan ringan.

F.      Prediksi
Ancaman kepunahan terhadap beruang madu cukup memprihatinkan. Beruang madu banyak diburu orang karena punya nilai jual cukup tinggi. Yang sering kali diperjualbelikan di pasar gelap antara lain empedu, daging dan bulu dewasa. Selain itu juga Beruang madu dewasa maupun anak-anak yang dijual sebagai binatang peliharaan. Beruang madu juga tidak lepas dari pembunuhan akibat peningkatan konflik antara beruang dengan manusia di pinggir hutan
Ancaman terbesar bagi kehidupan kawanan Beruang Madu di Kalimantan dan Sumatera adalah kerusakan hutan dan manusia sebagai pemangsa utamanya. Dampak kebakaran dan pembabatan hutan tidak terkendali yang melanda hutan-hutan di Sumatera dan Kalimantan, menyebabkan populasi H. malayanos terancam kepunahan. Ini, karena satwa langka tersebut sulit bertahan, mengingat ia hanya hidup di hutan tropis basah dataran rendah (lowland). Sedangkan kerusakan hutan tersebut akibat kebakaran dan penebangan liar hampir terjadi setiap tahun. Ditambah lagi tingkat ketergantungannya dengan hutan tropis basah dataran terendah sangat tinggi. Beberapa beruang pernah ditemukan mati kelaparan akibat hutannya habis terbakar. Ini membuktikan bahwa satwa tersebut hanya hidup di kawasan hutan yang benar-benar alami.
Penyusutan populasi satwa ini sangat drastis dan makin sulit ditemukan di hutan Kalimantan dan Sumatera karena kerusakan hutan yang juga semakin parah. Mereka kini hidup dalam hutan-hutan yang terpisah-pisah. Keadaan ini sangat buruk. Mereka terancam dibunuh karena terpaksa harus mencari makan ke perladangan penduduk. Selain itu, populasi mereka sulit berkembang, sebab perkembangan habitat yang baik sedikitnya harus berada dalam satu kawasan hutan yang luas dengan jumlah beruang madu mencapai 500 ekor.
Beruang madu (Helarctos malayanus), keberadaannya terus menyusut. Namun bukan perkara gampang menambah jumlahnya. Tak hanya karena luas habitatnya berkurang akibat penambangan batubara di Kalimantan Timur, namun satwa ini pun juga seperti enggan bereproduksi jika luas wilayahnya terus menyusut. Ada sifat beruang madu yang unik, yakni tidak atau menahan untuk punya anak jika merasa anaknya nanti tak mendapat luas area jelajah yang sesuai. Hal tersebut diungkapkan oleh Caecilia Nurimpi Kanasari, Kepala Divisi Pendidikan Lingkungan Hidup di Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH), Balikpapan, Kaimantan Timur.
Sejak tahun 1994, Beruang madu (Helarctos Malayanus) di kategorikan dalam status konservasi “Rentan” (Vulnerable; VU) yang berarti spesies ini sedang menghadapi risiko kepunahan di alam liar. Selain itu binatang pemakan madu ini juga telah dimasukkan dalam CITES Apendix I sejak tahun 1979.
Untuk mencegah ancaman kepunahan, salah satunya yang dilakukan oleh Yayasan Semboja Lestari yang bekerja sama dengan BOS (Balikpapan Orangutan Survival) yang membuat tempat perlindungan beruang madu (Helarctos malayanus) di Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur. Areal seluas 58 ha ini menjadi tempat penampungan beruang madu hasil sitaan dari masyarakat. Di Indonesia beruang madu dilindungi UU sejak 1973 (SK Mentan) diperkuat dengan Peraturan Pemerintah no.8 tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. 


LAMPIRAN



Sumber





Tidak ada komentar:

Posting Komentar